Analisis Drama "Pada Suatu Hari" karya Arifin C.Noer

Posted on Selasa, 17 Maret 2015


ANALISIS DRAMA
PADA SUATU HARI
KARYA ARIFIN C NOER
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran
Bahasa dan Sastra Imdonesia  yang disampaikan oleh
Bapak Ahmad Badruzzaman S.Pd.











Riviewed by:
Asep Wahid Latip Rohman
XII IPS 2


JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
KEMENTERIAN AGAMA
MADRASAH ALIYAH NEGERI RANCAH
TAHUN AJARAN
2015
1.      SINOPSIS
sepasang suami istri yang sudah memasuki masa tua dan baru saja menggelar acara ulang tahun pernikahan mereka. Sejak muda mereka selalu bahagia dan selalu menjadi pasangan yang romantis hingga pada masa tua. Sampai di suatu hari setelah tergelarnya acara ulang tahun mereka. Si kakek ingin mendengarkan si nenek menyanyi, karena dahulunya si nenek jago menyanyi, kakek ingin mendengarkan suara si nenek. Tak lama kemudian datang seorang janda seksi (Nyonya Wenas) berkunjung ke kediaman pasangan tua itu (nenek dan kakek), nyonya Wenas datang berkunjung bermaksud untuk meminta maaf kepada kakek dan nenek karena tidak bisa hadir diacara yang mereka gelar itu. Nenek seketika marah dan merasa kesal, karena yang nenek tahu nyonya Wenas tidak diundang oleh nenek dan kakek untuk hadir ke acara ulang tahun pernikahan mereka. Nyonya Wenas yang ternyata adalah mantan kekasih kakek menjadi penyebab utama kemarahan nenek kepada kakek. Nenek yang saat itu sedang merasa kesal, bertambah kesal karena seketika Joni (pembantu rumah tangga) memberikan minuman susu dingin yang diketahui bahwa minuman itu adalah kesukaan Nyonya Wenas. Tanpa pikir panjang, nenek saat itu juga meminta bercerai kepada kakek. Dengan segala cara kakek memohon agar dimaafkan dan agar nenek menarik kembali perkataannya tapi nenek tetap kuat dengan apa yang telah dilontarkannya.
Nenek dan kakek bertengkar sejadi-jadinya, tiba-tiba datang Nita (anak tertua nenek dan kakek) berkunjung menemui kedua orang tuanya. Nita hanya terdiam mendengan dan melihat pertengkaran nenek dan kakek. Dan Novia adik Nita datang dengan membawa pakaian-pakaiannya. Novia yang ternyata juga sudah meminta cerai kepada suaminya (Vita) karena cemburu berlebih kepada pasien suaminya itu. Karena, tidak mau rumah tangga anaknya rusak. Nenek mengingatkan Novia untuk tidak mengambil keputusan secara tiba-tiba, dan memikirkan kembali demi masa depan anak-anaknya. Seolah tidak ada masalah apapun nenek menasehati Novia agar tidak bercerai dengan kakek. Akhirnya masalah di antara nenek dan kakek terhapus begitu saja karena anaknya Novia. Dan di akhir cerita, anak-anak novia di bawa pergi oleh vita ketika anak-anaknya sedang bermain di kolam bersama Joni.
2.      Flot
a.      Eksposisi
Cerita ini di awali dengan kisah nenek dan kakek yang sedang saling memandang di mulai dari mereka seperti sepasang kekasih, menjadi pengantin dengan berlatar di sofa ruang tamu rumahnya. Dengan bukti dialog sebagai berikut :
Kakek     : Sekarang kau nyanyi.
Nenek menggeleng sambil tersenyum manja.
Kakek     : Seperti dulu.
Nenek menggeleng sambil tersenyum manja.
Kakek     :Nyanyi seperti dulu.
Nenek     : Malu
Kakek     : Sejak dulu kau selalu begitu.
Nenek    : Habis kaupun selalu mengejek setiap kali saya menyanyi.
Kakek     : Sekarang tidak, sejak sekarang saya tidak akan pernah
mengejek kau lagi.
Nenek    : Saya tidak mau menyanyi.
Kakek     : Kapanpun?
Nenek    : Kapanpun.
Kakek     : Juga untuk saya.
Nenek    : Juga untuk kau.
Kakek     : Sama sekali?
Nenek    : Sama sekali.



b.      Komplikasi
Awal permasalahan dimulai ketika Nyonya Wenas datang berkunjung ke rumah nenek dan kakek yang membuat nenek merasa cemburu dan marah kepada kakek. Sampai nenek memutuskan untuk ingin bercerai dengan kakek.
                                Pesuruh :               Ada tamu, nyonya besar.
                                Nenek    :               Siapa?
                                Pesuruh  :               Nyonya Wenas, nyonya.
 Nenek    :               (Melirik pada Kakek) Nyonya janda itu (kepada pesuruh)
Sebentar saya kedepan.
                                Pesuruh exit.
                                Nenek    :               Kau surati dia?
                                Kakek    :               Tidak.
                                Nenek    :               Kau bohong. Bagaimana dia bisa tahu tentang pesta kita?
                                Kakek    :               Saya tidak tahu.
                                Nenek    :               Kau bohong (Exit) Demam saya mulai kambuh.
                               
c.       Klimaks
Puncak masalah terjadi ketika anak-anak kakek dan nenek datang berkunjung untuk mengutarakan masalahnya. Terutama Novia anak kedua nenek dan kakek yang menceritakan keluh kesahnya dan ingin bercerai dengan Vita suaminya. Pada saat itu masalah semakin rumit.
Kakek       : Begitu Nita. Kau harus dengar dari permulaan sekali soal
Ibumu.
Novia        : Pak…..
Kakek
      : Ada apa kau? Baru kemarin kau pulang dari sini? Dengan siapa?
Novia
        : Anak-anak.
Kakek
       : Mana mereka?
Novia
        : Di belakang. Lihat ikan seperti biasanya.
Kakek       :(Setelah berfikir) Kebetulan kau datang. Begini. Tidak salah kalau
kau juga sebagai anak tahu. Ini persoalan juga sangat runcing dan bisa mengakibatkan kesedihan berlarut-larut.
Novia        : Soal apa pak?
Nita
          : Ibu Purik. Ibu marah.
Novia
        : Kenapa?
Kakek       : Itulah dengarkan saya (berfikir). Begini. Soalnya sepele dan tidak
bermutu. Ibumu tidak suka tanaman kaktus. Saya suka tanaman itu. Bahkan saya punya tanaman kaktus dalam kakus. Ibumu marah-marah.
Novia        : Bapak tidak mau mengalah?
Kakek
       : Selama hidup saya selalu mengalah dan terus-terusan kalah
malah.
Novia        : Buang saja kaktus itu.
Nita          : Soalnya bukan kaktus. Soalnya itu cemburu pada nyonya Enas.
Kakek       : Ya, begitulah kalau tanpa tedeng aling-aling. Ibumu
cemburu dan
minta cerai.
Novia
        : Minta cerai?
Kakek
       : Minta cerai. Bahkan ibumu minta supaya hari ini juga
diselesaikan surat-suratnya.
Novia
        : Ibu?
Nita
          : Ya, seperti kau sekarang.
Kakek
       : Apa? Seperti kau, Novia? Ada apa? Kau juga sedang minta cerai?
Dari siapa?
Nita          : Dari siapa. Dari suaminya tentu, Vita.
Kakek       : Kau dan ibumu memang satu jiwa.
D.    Penyelesaian
Ketika Novia berkata bahwa Novia akan meminta cerai kepada Vita, saat itu nenek tersadar bahwa bercerai adalah bukan hal yang baik. Maka dari itu, nenek mengingatkan Novia untuk tidak mengambil keputusan secara mendadak dan menarik kembali apa yang dikatakannya. Seketika itu pula, Novia mulai tersadar. Bahwa masih ada anaknya yang harus diperhatikan oleh kedua orang tuanya.
Nenek       :Lebih jelek lagi (menangis lagi) Tuhanku, apa jadinya nanti kalau
kau jadi berpisah dengan Vita yang dulu kau agung-agungkan? Apa jadinya hidupmu?
Nita          :Apa jadinya anak-anakmu? Meli dan Feri akan kehausan cinta
sebab mereka tidak akan lengkap menerima keutuhan cinta.
Nenek       :Fikirkan baik-baik, sayangku. Singkirkan kegelapan yang
dibenihkan setan cemburu.
Kakek       :Apa kira surat talak itu cek?
Nenek       :Tuhanku, limpahilah anak saya dengan cahaya kasih Mu. Novia,
tidakkah kau bisa menimba pelajaran dari pengalaman-pengalaman ibu dan ayahmu?
Kakek       :Ayah dan ibumu berumah tangga selama setengah abad, tanpa
sedikitpun membiarkan setan talak bertelur dalam kamar tidurnya, bahkan tidak dalam dapurnya.
Nenek       :Kami bagaikan Adam dan Hawa.
Kakek       :Apa kau pernah mendengar Hawa minta talak kepada Adam?
Berkacalah kepada ibu dan Ayahmu. Kamilah pasangan abadi dunia dan akhirat.
Nenek       :Kami bagaikan Sam Pek dan Eng Tay.
Kakek 
     :Pronocitro dan Roro Mendut.
Nenek
       :Di sahara kami adalah Leila dan Qais.
Kakek       :Kau sendiri tahu betapa setianya Layonsari sampai-sampai ia
bunuh diri demi cintanya kepada Jayaprana.
Nenek       :Bacalah semua itu, sayang. SEmua itu pusaka Nenek moyang kita
yang manjur.
Kakek       :Demi menegakkan tiang-tiang rumah tangga kita, berfikir dengan
tenang.
Nita          :Dan demi kebahagiaan anak kita. Adikku, kau begitu bahagia
dengan Meli dan Feri dan papanya Vita kenapa kau sebodoh itu mau memuaskan kebahagiaan itu? Tidakkah kau tahu bahwa diam-diam saya sebagai kakakmu selalu merasa iri karena saya dan suami saya tidak pernah diberkahi anak?


E.     KataStrope
Katastrope cerita dalam drama ini berakhir sedih dan meninggalkan tanda tanya besar, sebab suami novia belum menghadap kakek dan nenek tentang masalah perceraiannya dengan novia.

3.      Tokoh dan Penokohan
a.       Kakek                                : Kakek dalam cerita ini adalah sebagai tokoh utama yang memiliki sifat bijak, penyayang dan sulit ditebak. Terlihat ketika Nyonya Wenas datang berkunjung dan terdapat beberapa rahasia yang masih disimpan oleh kakek.
b.      Nenek                                : terdapat dua tokoh utama yang saya dapati dalam cerpen ini. Nenek sebagai tokoh utama yang memiliki sifat pencemburu, bijak, juga penyayang terhadap anak-anaknya.
c.       Nyonya Wenas                  : Tokoh nyonya Wenas sebagai pemeran pengganggu di sini, sangat bisa membuat konflik di antara kakek dan nenek. Tidak begitu banyak karakter nyonya Wenas yang saya dapat dari keterbacaan saya karena nyonya Wenas hanya ditunjukan pada beberapa sekuen untuk menimbulkan konflik. Namun, di sana terlihat nyonya Wenas yang sedikit centil mungkin dikarenakan nyonya Wenas adalah janda dan mantan kekasih kakek juga.
d.      Novia                                : Anak kedua nenek dan kakek ini sifatnya tidak jauh dengan nenek (ibunya), Novia terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Tetapi Novia juga memiliki sifat yang penyayang.
e.       Nita                                   : Nita tidak jauh halnya dengan ayahnya, Nita memiliki sifat yang bijak. Karena Nita hanya pemeran pembantu, karakter Nita hanya sedikit yang ditunjukkan.
f.       Pesuruh                             : amanat, jujur dan lalai
g.      Arba, Sopir                        : amanat dan jujur
4.      Dialog
Kakek dan nenek mempunyai konflik setelah nyonya wenas datang ke acara ulang tahun pernikahan mereka. Karena si kakek membahas masa lalaunya dengan nyonya wenas.
Kakek                   :Kenapa kau diam begitu?
Nenek
                   : diam saja.
Kakek
                   : Kenapa kau begitu diam?
Nenek
                   : Kau juga begitu.
Kakek
                   :Kenapa?
Nenek
                   : Kau juga kenapa?
Kakek
                   : Sayang, adalah tidak baik kita bubuhi pesta emas dengan
kata-kata seru.
Nenek                   : Kau sendiri yang membubuhinya. Kau rusak bunga-
bunga pesta kita dengan kaktus-kaktus pacar kau.
Kakek                   : Sejak muda kau begitu yakin seakan saya pernah punya
hubungan percintaan dengan perempuan tadi. Saya heran kenapa kau begitu berhasil menciptakan tokoh yang fantatis itu menjadi tokoh yang seolah nyata dalam diri kau sehingga tokoh itu mampu mempermainkan kau sendiri selama hidup kau.
Nenek                   : Bukan fantastis. Tapi memang dia tokoh fantasi kau
bahkan sampai saat kau tua (Menangis) Sengaja kau suruh Joni menyiapkan segera minuman kesukaannya begitu dia datang.
Kakek                   : Siapa? Saya? Menyuruh Joni? Minuman apa?
Nenek
                   : Kau menyuruh Joni membuat es susu begitu nyonya janda
itu datang.
Kakek                   : Tidak. Saya tidak menyuruh Joni.
Nenek                   :Kau lakukan itu ketika saya sedang menemui dia tadi
ketika kau menyingkir dari dari sini tadi dan kemudian kau sembunyi ke kamar baca.
5.      Latar/setting
Tempat          : Latar tempat yang digunakan pada cerita pendek tersebut adalah
bertempat di sebuah ruang tamu rumah
Waktu           : Sedangkan, latar waktu tidak begitu tampak sehingga saya tidak
begitu tahu latar waktu yang dipakai. Tapi menurut pemikiran saya waktu yang dipakai adalah pada siang hari pada hari libur.
Suasana         : Terdapat suasana keceriaan dan kebahagiaan ketika nenek dan
kakek sedang bercengkrama di ruang tamu rumahnya pada awal cerita. Kemudian suasana itu seketika menjadi berubah pada saat Nyonya Wenas hadir di rumah mereka, suasana menjadi sangat dingin terlihat beberapa kekesalan pada diri nenek, sehingga membuat nenek ingin bercerai dari kakek.
6.      Tema 
Tema Pokok                : Kekeluargaan
Tema Penunjang          :


7.      Amanat
Drama yang diciptakan Arifin ini sangat mempunyai pesan moral yang tinggi, menyikapi banyaknya sebuah kata perceraian yang terjadi dewasa ini yang  didasari oleh perasaan cemburu, hal sepele yang tentunya tidak perlu lagi ada dalam kalimat rumahtangga. Banyak asumsi yang mengatakan, bahwa sebuah pernikahan ibarat seperti sebuah mainan saja oleh sebagian besar orang yang tentunya tidak memiliki keseriusan dalam menjalani bahtera rumah tangganya. Peran seorang saudara atau orang tua kerap kali dapat menyelamatkan sebuah pernikahan, namun apakah yang terjadi jika tidak ada orang tua atau pun saudara? Apakah perceraian akan tetap terjadi.
Kuncinya adalah pada diri kita, sebagai manusia tentu bersinggungan dengan orang jelas terjadi, namun bagai mana kita menyikapi akan hal yang tentunya tidak perlu kita rasakan kepada orang-orang yang kita sayangi. Pikirkan lah dalam segalah hal yang akan terjadi jika sebuah perceraian terjadi, terlebih jika dalam rumah tangga itu telah memiliki  anak yan tidak tahu pasti tentang masalah yang dialami kedua orang tuanya. Beban psikis tentunya akan benar –benar dirasakan oleh anak walau secara fisik mereka tidak memperlihatkan itu semua. Yang paling serius adalah sebuah tindakan yang tidak tepat saat memilih jalan.
8.      Interpretasi kehidupan
Berdasarkan hasil analisis saya, drama ini sangant menginterpretasikan keh



TEMA : Kekeluargaan
PARA TOKOH DAN PENOKOHAN:
Nenek             : pencemburu, penyindir, penasehat, romantis dan keras kepala.
·         “Sayang, kenapa kau berfikir kesana? Itu sangat tidak baik, lagi tidak ada gunanya.
Sayang , berhenti kau berfikir tentang hal itu.”
·         “Selalu kau begitu. Selalu kau tak pernah ambil pusing setiap kali saya sakit.”
·         “Kau sudah terlalu pintar berciuman ketika pertama kali kau mencium saya.”
·         “Saya kira tidak begitu. Tua adalah konsekwensi dari kesadaran kita.”
·         “Bukan fantastis. Tapi memang dia tokoh fantasi kau bahkan sampai saat kau tua (Menangis) Sengaja kau suruh Joni menyiapkan segera minuman kesukaannya begitu dia datang.”
·         “Saya akan terus menangis. Biar geledek menyambar saya tetap menangis.”
Kakek             : jujur, penasehat, dan romantis
·         “Saya memang pintar berkhayal. Setiap kali saya menonton saya selalu mengkhayalkan adegan ciuman secara amat terperinci.”
·         “Kausendiri yang menyuruh agar saya berlaku pura-pura tidak kenal kepada nyonya itu.”
·         “Katakan bidadariku apa yang……..”
Pesuruh          : amanat, jujur dan lalai
·         “Tuan besar sering menceritakan perihal nyonya kepada saya. Dan ketika saya tahu nyonya datang, segera saya buatkan minuman itu. Selamat minum nyonya.”
·         “Terus terang sudah dua kali, nyonya.”
·         “Ayo lita nonton ikan.”
Joni dan Meli dan Feri masuk ke dalam.
Janda, NyonyaWenas           : Penyindir dan penggoda
·         “Ya, saya dan anjing saya sakit. Setiap kali saya sakit anjing saya juga ikut sakit. Saya agak senang karena sekarang saya agak sembuh, tetapi Bison agak parah sakitnya.”
·         “Terima kasih (Sambil pergi) Bisonku.”
Arba, Sopir    : amanat dan jujur
·         munculSopirArbamembawabeberapakoperdantasmeletakkan di sana, tidak lama kemudianmunculNoviadengananak-anaknya, MelidanFeri.
·         “Papanya sendiri yang menculik, kira-kira seperempat jam yang lalu tuan dokter tadi menemui saya dan diam-diam mengajak Meli dan Feri pulang.”
Novia              : pencemburu, berburuk sangka dan keras kepala
·         “Saya yakin dia hanya pura-pura sakit.”
·         “Ibu, saya cemburu.”
·         “Tapi, Nita, kau sendiri bisa menimbang bagaimana sakitnya perasaan saya    melihat tingkah Vita terhadap pasiennya yang pura-pura sakit itu.?”
Nita                 : penasehat
·         “Novia, apakah kau tidak pernah memperhatikan baik-baik betapa jernih mata anak-anakmu yang lucu itu. Meli dan Feri.”
·         “Betul-betul kau diliputi kemarahan saja. Cobalah berfikir dengan tenang. Sebegitu banyak sudah kata yang kau ucapkan tapi tidak sepatahpun kata yang dapat menjelaskan kenapa kau minta cerai dari suamimu. Kalau kau mau jujur sebenarnya kau hanya digerakkan oleh prasngka-prasangkamu sendiri saja. Coba. Kalau kau bisa cemburu oleh Icih kenapa oleh puluhan perempuan-perempuan lain atau bahkan gadis-gadis yang juga berobat kepada suamimu?”
Meli    
Feri    
Vita
Icih     

AMANAT
Drama yang diciptakan Arifin ini sangat mempunyai pesan moral yang tinggi, menyikapi banyaknya sebuah kata perceraian yang terjadi dewasa ini yang  didasari oleh perasaan cemburu, hal sepele yang tentunya tidak perlu lagi ada dalam kalimat rumahtangga. Banyak asumsi yang mengatakan, bahwa sebuah pernikahan ibarat seperti sebuah mainan saja oleh sebagian besar orang yang tentunya tidak memiliki keseriusan dalam menjalani bahtera rumah tangganya. Peran seorang saudara atau orang tua kerap kali dapat menyelamatkan sebuah pernikahan, namun apakah yang terjadi jika tidak ada orang tua atau pun saudara? Apakah perceraian akan tetap terjadi.
Kuncinya adalah pada diri kita, sebagai manusia tentu bersinggungan dengan orang jelas terjadi, namun bagai mana kita menyikapi akan hal yang tentunya tidak perlu kita rasakan kepada orang-orang yang kita sayangi. Pikirkan lah dalam segalah hal yang akan terjadi jika sebuah perceraian terjadi, terlebih jika dalam rumah tangga itu telah memiliki  anak yan tidak tahu pasti tentang masalah yang dialami kedua orang tuanya. Beban psikis tentunya akan benar –benar dirasakan oleh anak walau secara fisik mereka tidak memperlihatkan itu semua. Yang paling serius adalah sebuah tindakan yang tidak tepat saat memilih jalan.
Dari hari demi hari perceraian banyak terjadi, mulai dari rasa cemburu yang belum tentu kebenarannya, dengan emosi saat menyelesaikan, yang ada hanyalah saling baku lontar kejelekan pasangan, lalu bagai mana dengan ucapan-ucapan manis mereka sebelum menikah? Apakah mereka akan menjilat lagi itu semua. Setidaknya bukan hanya diperuntukan bagi yang sudah menikah saja. Kita yang belum menikah tentunya bisa menjadi modal dasar kita untuk lebih siap dan hati-hati dalam memilih seorang pasangan hidup. Tidak hanya manis dimuka, tapi cobalah menjadikan hidupmu manis disetiap waktuanya. Agar kata-kata perceraian tidak lagi terucap di kemuadian hari.
Jika kita mengintip kisah cinta di novel yang dimana didalamnya terdapat sebuah cinta yang begitu setianya hingga melahirkan keluarga yang begitu bahagia, alangkah indahnya dan bahagia kita melihat itu, tidakkah kita ingin seperti dalam cerita itu? Menjalani hidup dengan perasaan saling percaya, hingga maut yang memisahkan keduanya.
Pengarang mengharapkan adanya kesadaran dari individu tentang cara untuk menanggapi sebuah permasalahan dalam rumah tangga, harus dengan pemikiran yang mantap sebelum memutuskan suatu keputusan, kita dilatih menahan sebuah emosi dalam menyelesaikan persoalan. Banyak dari sebuah hubungan termasuk dalam rumah tangga yang mengalami kebuntuan dalam memecahkan masalahnya,


Biografi  ARIFIN C. NOER

Arifin C. Noer Lahir tanggal 10 maret 1941, dari keluarga tukang sate di Cierbon, Jawa Barat. Ia meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1995 di Jakarta. Slah seorang Sutradara Teater terkemuka ini juga handal sebagai penulis drama. Karya-karya monumentalnya seperti :  Kapai-kapai, Sumur Tanpa Dasar, Mega-mega, Dalam bayangan Tuhan dan lain-lain, banyak dipentaskan oleh berbagai kelompok Teater, baik di dalam maupun di luar Negri. Kariernya sebagai penulis lakon dimulai sejak menjadi mahasiswa di Surakarta. Ketika itu ia aktif dalam group Teater Muslim pimpinan Muhamad Dipenogoro, dan ia pun dikenal pernah bergabung dengan Rendra.

Sebagai penulis naskah dan sutradara Teater, Arifin merupakan fenomena yang menarik dalam khasanah perkembangan teater modernIndonesia. Selain giat mengembangkan apa apa yang disebutnya teater eksperimental, Arifin juga menjadikan kekayaan teater tradisi Indonesia sebagai sumber kreativitas. Maka, tak ayal banyak pengamat yang mengatakan bahwa teater Arifin adalah teater modern Indonesia yang meng- Indonesia.

Dunia film mulai dirintisnya dengan menjadi suradara film yang Suci Sang Primadonna pada tahun 1977, setelah sebelumnya ia dikenal sebagai penulis skenario. Dengan modal bakat menyutradarai dan menulis naskah yang luar biasa, dunia Filmpun memberi prestasi dengan menyabet piala Citra diantaranya lewat Film : Taxi dan Serangan Fajar. Film-filmnya, selain menarik secara tematik dan artistik juga ada yang sangat digemari masyarakat, yaitu : Pemberontakan G. 30. S. PKI dan Taxi. Adapun Film-filmnya yang lain adalah: Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa, Harmonikaku, Biarkan Bulan Itu, Bibir Mer dan sinetron antara lain : Sebuah Pintu Sebuah Kalbu, Bulan Dalam Baskom dan Keris.

Selain sebagai penulis naskah dan sutradara teater dalam film, Arifin C. Noer adalah pendiri Teater Ketjil, pemikir kesenian dan sarjana sosial. Ia menerima SEA Writer Award dari Thailand serta menjadi penceramah dan memberikan workshop teater di dalam maupun luar negri. Pada tahun 1972, ia menerima anugerah seni dari pemerintah Republik Indonesia.

ANALISIS NASKAH DRAMA PADA SUATU HARI KARYA ARIFIN C NOOR


1.      Sinopsis
Cerpen ini bercerita tentang sepasang suami istri yang sudah memasuki masa tua dan baru saja menggelar acara ulang tahun pernikahan mereka. Sejak muda sampai saat itu mereka selalu bahagia dan selalu menjadi pasangan yang romantis. Sampai di suatu hari setelah tergelarnya acara ulang tahun mereka. Datang seorang janda seksi (Nyonya Wenas) berkunjung ke kediaman pasangan tua itu (nenek dan kakek), nyonya Wenas datang berkunjung bermaksud untuk meminta maaf kepada kakek dan nenek karena tidak bisa hadir diacara yang mereka gelar itu. Nenek seketika marah dan merasa kesal, karena yang nenek tahu nyonya Wenas tidak diundang oleh nenek dan kakek untuk hadir ke acara ulang tahun pernikahan mereka. Nyonya Wenas yang ternyata adalah mantan kekasih kakek menjadi penyebab utama kemarahan nenek kepada kakek. Nenek yang saat itu sedang merasa kesal, bertambah kesal karena seketika Joni (pembantu rumah tangga) memberikan minuman susu dingin yang diketahui bahwa minuman itu adalah kesukaan Nyonya Wenas. Tanpa pikir panjang, nenek saat itu juga meminta bercerai kepada kakek. Dengan segala cara kakek memohon agar dimaafkan dan agar nenek menarik kembali perkataannya tapi nenek tetap kuat dengan apa yang telah dilontarkannya.
Nenek dan kakek bertengkar sejadi-jadinya, tiba-tiba datang Nita (anak tertua nenek dan kakek) berkunjung menemui kedua orang tuanya. Nita hanya terdiam mendengan dan melihat pertengkaran nenek dan kakek. Dan Novia adik Nita datang dengan membawa pakaian-pakaiannya. Novia yang ternyata juga sudah meminta cerai kepada suaminya (Vita) karena cemburu berlebih kepada pasien suaminya itu. Karena, tidak mau rumah tangga anaknya rusak. Nenek mengingatkan Novia untuk tidak mengambil keputusan secara tiba-tiba, dan memikirkan kembali demi masa depan anak-anaknya. Seolah tidak ada masalah apapun nenek menasehati Novia agar tidak bercerai dengan kakek. Akhirnya masalah di antara nenek dan kakek terhapus begitu saja karena anaknya Novia. Dan di akhir cerita, anak-anak novia di bawa pergi oleh vita ketika anak-anaknya sedang bermain di kolam bersama Joni.

2.      Alur
Alur yang disajikan pada cerpen Pada Suatu Hari ini bersifat maju. Karena, terlihat di awal cerita yang menceritakan nenek dan kakek ketika masih muda, lalu menikah, mempunyai anak, lalu tua. Hingga akhirnya menceritakan masalah yang ada dalam keluarga mereka sampai datang masalah baru dengan anaknya Novia.
3.      Struktur Dramatik
a.      Eksposisi
Cerita ini di awali dengan kisah nenek dan kakek yang sedang saling memandang di mulai dari mereka seperti sepasang kekasi, menjadi pengantin dengan berlatar di sofa ruang tamu rumahnya.
b.      Komplikasi
Awal permasalahan dimulai ketika Nyonya Wenas datang berkunjung ke rumah nenek dan kakek yang membuat nenek merasa cemburu dan marah kepada kakek. Sampai nenek memutuskan untuk ingin bercerai dengan kakek.
c.       Klimaks
Puncak masalah terjadi ketika anak-anak kakek dan nenek datang berkunjung untuk mengutarakan masalahnya. Terutama Novia anak kedua nenek dan kakek yang menceritakan keluh kesahnya dan ingin bercerai dengan Vita suaminya. Pada saat itu masalah semakin rumit.
d.      Resolusi
Ketika Novia berkata bahwa Novia akan meminta cerai kepada Vita, saat itu nenek tersadar bahwa bercerai adalah bukan hal yang baik. Maka dari itu, nenek mengingatkan Novia untuk tidak mengambil keputusan secara mendadak dan menarik kembali apa yang dikatakannya. Seketika itu pula, Novia mulai tersadar. Bahwa masih ada anaknya yang harus diperhatikan oleh kedua orang tuanya.
e.       Kesimpulan
Kesimpulan yang bisa saya ambil dari cerpen ini adalah kisah cinta nenek dan kakek yang tak terpisahkan sekalipun sudah beberapa kali cobaan menghampiri rumah tangga mereka. Nenek dan Kakek yang selalu memikirkan keadaan anak-anak dan cucunya.
4.      Tokoh Cerita / Karakter
Pada cerita pendek tersebut terdapat beberapa tokoh di antaranya:
a.      Kakek                    : menurut keterbacaan saya, Kakek dalam cerpen ini adalah sebagai tokoh utama yang memiliki sifat bijak, penyayang dan sulit ditebak. Terlihat ketika Nyonya Wenas datang berkunjung dan terdapat beberapa rahasia yang masih disimpan oleh kakek.
b.      Nenek                    : terdapat dua tokoh utama yang saya dapati dalam cerpen ini. Nenek sebagai tokoh utama yang memiliki sifat pencemburu, bijak, juga penyayang terhadap anak-anaknya.
c.       Nyonya Wenas      : Tokoh nyonya Wenas sebagai pemeran pengganggu di sini, sangat bisa membuat konflik di antara kakek dan nenek. Tidak begitu banyak karakter nyonya Wenas yang saya dapat dari keterbacaan saya karena nyonya Wenas hanya ditunjukan pada beberapa sekuen untuk menimbulkan konflik. Namun, di sana terlihat nyonya Wenas yang sedikit centil mungkin dikarenakan nyonya Wenas adalah janda dan mantan kekasih kakek juga.
d.      Novia                     : Anak kedua nenek dan kakek ini sifatnya tidak jauh dengan nenek (ibunya), Novia terlalu cepat mengambil keputusan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Tetapi Novia juga memiliki sifat yang penyayang.
e.       Nita                       : Nita tidak jauh halnya dengan ayahnya, Nita memiliki sifat yang bijak. Karena Nita hanya pemeran pembantu, karakter Nita hanya sedikit yang ditunjukkan.
5.      Bahasa
Bahasa yang digunakan pada cerpen Pada Suatu Hari ini menggunakan bahasa yang mudah dimengerti mungkin karena latar waktu yang dipakai adalah waktu di zaman sekarang. Sehingga memudahkan pembaca untuk mengerti makna dari cerpen tersebut.
6.      Tema
Tema pada cerpen ini adalah tentang kekeluargaan. Bagaimana kisah sebuah keluarga yang saling membantu satu sama lain, dan pasangan nenek dan kakek yang tetap romantis sekalipun banyak kaktus yang menghampiri pernikahan mereka.
7.      Dorongan / Motivasi
Ada beberapa dorongan moral yang terdapat pada cerita ini, diantaranya adalah bagaimana kita harus mempertahankan rumah tangga. Karena belakangan ini marak sekali terjadinya perceraian hanya karena hal sepele. Banyak pasangan yang mempermaikan pernikahan. Selain itu, cerpen ini juga memberikan motivasi kepada kita selaku pembaca untuk berbicara baik dan sopan terhadap orang tua. Belakangan ini banyak sekali anak yang sudah tidak melihat tempat pada siapa ia berbicara, karena termakan oleh sinetron-sinetron picisan yang bisa merusak moral dan tata bahasa generasi muda sekarang.

8.      Latar
Latar tempat yang digunakan pada cerita pendek tersebut adalah bertempat di sebuah ruang tamu rumah. Sedangkan, latar waktu tidak begitu tampak sehingga saya tidak begitu tahu latar waktu yang dipakai. Tapi menurut pemikiran saya waktu yang dipakai adalah pada siang hari pada hari libur. Banyak suasana tercipta pada cerpen tersebut. Terdapat suasana keceriaan dan kebahagiaan ketika nenek dan kakek sedang bercengkrama di ruang tamu rumahnya pada awal cerita. Kemudian suasana itu seketika menjadi berubah pada saat Nyonya Wenas hadir di rumah mereka, suasana menjadi sangat dingin terlihat beberapa kekesalan pada diri nenek, sehingga membuat nenek ingin bercerai dari kakek. Kesedihan diperparah kembali dengan datangnya Novia yang membawa cerita mengenai rumah tangganya yang diujung tanduk. Ketegangan terjadi ketika Novia mengetahui kedua anaknya diculik oleh ayahnya sendiri. Di akhir cerita tidak tampak jelas bagaimana suasana yang ada pada cerita tersebut.
Analisis Dialog Tokoh dan Hubungan Antar Tokoh
 dalam Naskah  Pada Suatu Hari Karya Arifin C. Noor
Sandro Tyas 110212404932

PENDAHULUAN

Latar Belakang
            Sastra pada dasarnya merupakan jelmaan dari kehidupan nyata manusia. Memahami satra hampir sama nilainya dengan memahami hidup orang yang melahirkan sastra. Karya sastra yang dikategorikan menjadi prosa, puisi dan naskah drama mempunyai jiwa tersendiri dalam aplikasinya. Tidak seperti puisi dan prosa, naskah drama perlu diaplikasikan bersama orang yang menjadi tokoh lain dalam sebuah pementasan meskipun dalam kenyataannya ada pementasan naskah drama yang dilakukan sendiri. Sastra dianggap sebagai hal yang istimewa karena perpaduan imajinasi, kreativitas, kecakapan, pengetahuan, serta wawasan yang luas.
            Dari ketiga jenis karya sastra ini, drama merupakan karya sastra yang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Drama terlahir dari penulis yang terinspirasi oleh realita dari kehidupan masyarakat sekitar penulis, baik dari pengalaman penulis sendiri maupun pengalaman orang lain. Drama merupakan kisah kehidupan manusia yang dikemukakan di pentas berdasarkan naskah, menggunakan percakapan, gerak laku, unsur-unsur pembantu seperti dekor, kostum, rias, lampu, musik, serta disaksikan oleh penonoton.
            Drama yang termasuk sastra modern terbentuk dari beberapa unsur yang saling berkaitan dan saling mendukung. Unsur-unsur pembentuk drama ada dua, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Adapun kajian yang menjadi fokus pada makalah ini adalah tentang “Dialog Antar Tokoh dan Hubungan Antar  Tokoh dalam Naskah Drama Karya Arifin C. Noer”. Hal penting dilakukannya kajian terhadap unsur-unsur pembentuk drama yaitu untuk mengetahui pesan yang hendak disampaikan pengarang dalam naskah drama, dan akan terwujud setelah nantinya menelaah satu persatu unsur drama serta ditariknya kesimpulan dari kajian ini.

Rumusan Masalah
            Makalah ini akan membahas masalah-masalah berkaitan dengan naskah drama berkaitan dengan dialog tokoh dan karakternya. Berikut rumusan masalah:  
            a. apakah isi naskah drama Pada Suatu Hari?
            b. bagaimana karakter tokoh dilihat dari dialognya?
            c. bagaimana hubungan antar tokoh berdasar dialognya?

Tujuan Penulisan
            Makalah ini diharapkan dapat memberi pengertian pembaca tentang naskah drama Karya Arifin C. Noer. Secara terperinci, beriut tujuan penulisan makalah ini:
            a. mengetahui isi naskah drama Pada Suatu Hari
            b. mengetahui karakter tokoh dari dialognya
            c. mengetahui hubungan antar tokoh berdasarkan dialognya.




Isi Naskah Drama Pada Suatu Hari

Naskah Drama Pada Suatu Hari ini mengisahkan kehidupan keluarga besar dengan semua masalahnya. Kecemburuan, kebersamaan, dan saling melengkapi. Secara sederhana pengarang menggambarkan masalah dalam keluarga menjadi sebuah alur cerita yang menarik untuk di sajikan dalam sebuah pementasan drama.
Seorang kakek, sekaligus seorang ayah bagi anak an cucunya menyimpan masa lalu yang tidak bisa disembunyikan bahkan hingga tua, yakni masa lalunya dengan kekasihnya terdahulu. Masa lalu itu terkenang dengan menyimpan sebuah jenis tanaman kaktus di dalam kamar mandi keluarga tersebut.  Sementara itu, si nenek yang ingin mengenag masa-masa indah bersama suaminya tidak dapat terpuaskan karena si kakek tidak bersedia mendendangkan sebuah lagu untuknya. Gambaran lagu dan penolakan dalam naskah drama ini menunjukkan betapa adanya penolakan batin dari sepasang kakek-nenek ini semenjak perkenalan hingga saat ini. Pergolakan bain yang terjadi pada keuanya sukar diakhiri karena sudah erlalu tua untuk memisahkan diri, ada anggapan dan perasaan tidak enak terhadap anak dan cucunya. Pertimbangan anak dan cucu menjadikan pasangan ini menyembunyikan masalahnya.
Karakter Tokoh Berdasar Dialognya
            Naskah drama tersusun atas dialog-dialog yang bertujauna mengutarakan pendapat tokoh dan menentukan jalan cerita. Dalam naskah drama diciptakan tokoh-tokoh pembawa dialog disertai dengan karakternya, begitupun dengan naskah drama ini dilengkapi dengan dialog antar tokoh dan monolognya. berikut dialog tokoh dan sifat tokoh dilihat dari dialognya:
a.       Si Kakek
Tokoh Kakek dalam cerita ini menunjukkan berbagai sifat jika dilihat dari peristiwa yang menimpanya. Sifat penyayang dan romantis ditunjukkan dari diskripsi dan dialog pertamanya dengan si nenek seperti berikut:
Kakek dan Nenek duduk berhadapan.
Beberapa saat mereka saling memandang, Beberapa saat mereka saling tersenyum. Suatu saat mereka sama-sama menuju ke sofa, duduk berdampingan, seperti sepasang pemuda dan pemudi. Setelah mereka ketawa kembali mereka duduk berhadapan. Lalu beberapa saat saling memandang, tersenyum, lalu ke sofa lagi duduk berdampingan, seperti pepasang pengantin, malu-malu dan sebagainya, demikian seterusnya..

TIGA
Kakek     :   Sekarang kau nyanyi.
Nenek menggeleng sambil tersenyum manja.
Kakek     :   Seperti dulu.
Nenek menggeleng sambil tersenyum manja.
Kakek     : Nyanyi seperti dulu.
Nenek    :   Malu
Kakek     :   Sejak dulu kau selalu begitu.
Nenek    :   Habis kaupun selalu mengejek setiap kali saya menyanyi.
Kakek     :   Sekarang tidak, sejak sekarang saya tidak akan pernah mengejek kau lagi.
Nenek    :   Saya tidak mau menyanyi.
Kakek     :   Kapanpun?
Nenek    :   Kapanpun.
Kakek     :   Juga untuk saya.
Nenek    :   Juga untuk kau.
Kakek     :   Sama sekali?
Nenek    :   Sama sekali.

            Penggambaran penyayang dan romantis tersebut dapat dijadiakn bukti sifat si kakek. namun, sifat tersebut muncul ketika hubungannya dengan si nenek dalam keadaan baik. Sisi lain si kakek ditunjukkan dengan sifatnya yang tidak tegas, sifat tersebut didasari dari rasa bersalahnya karena telah membuat isterinya marah. sifat si kakek yang lain yakni tidak mudah melupakan kenangan masa lalu. sifat ini ditunjukkan dengan menyimpan kaktus masa lalunya di kakus, mengingat minuman kesukaan mantan kekasihnya dan kebiasaanya menyirami bunga seperti masa lalu seperti kutipan dialog tokoh lain yakni Wenas yang tak lain adalah masa lalunya dengan pembantu berikut:

Janda      :   (Minum) Segar bukan main. Bagaimana kau tahu saya suka minuman ini?
Pesuruh :   Tuan besar sering menceritakan perihal nyonya kepada saya. Dan ketika saya tahu nyonya datang, segera saya buatkan minuman itu. Selamat minum nyonya.
Janda      :   Nanti dulu.
Pesuruh :   Ya, nyonya?
Janda      :   Tuan besar masih suka…
Pesuruh :   Menyirami kaktus?
Janda      :   Ya?
Pesuruh :   Tidak, nonya, tapi tuan besar menyirami seluruh bunga sekarang, setiap pagi dan sore. Memang tengah malam seringkali diam-diam ia menyirami kaktus yang ditaruh di dalam kakus. Maaf nyonya, saya harus ke dalam.
b.      Si Nenek
Sifat manja dan tidak mau mengalah kental dengan tokoh si nenek. Hal seperti inilah yang menjadikan sebuah naskah dialog dan drama menjadi menarik, yakni perpaduan antara berbagai karakter tokohnya. Sifat manja dan tak mau mengalah si nenek ditunjukkan dari dialog bersama suaminya berikut:
Nenek    :               Selalu kau begitu. Selalu kau tak pernah ambil pusing setiap kali saya sakit
                                    Nenek     :               Sayang, saya tidak mau memberi maaf kalau kau tidak mau juga berhenti menyebut-nyebut soal kematian.
                Nenek         :           Kalu begitu, kau tak saya maafkan.


c.       Wenas
Wenas dalam naskah ini berperan sebagai wanita pengganggu, tentu saja sikapnya genit dan agak manja. Usaha Wenas untuk memengaruhi rumah tangga si kakek berhasil ketika ia berhasil membuat suasana panas dalam rumah tangga si kakek. sikap genit wenas ditunjukkan dalam kutipan dialognya sebagai berikut:
Janda      :   Betul, nyonya. Onda adalah lelaki yang amat lembut, malah sangat amat lembut. Onda selalu cermat dalam memilih kata-kata dan juga saya kira ia tidak pernah memakai tanda seru selama hidupnya.
Janda      :   (Menjerit) Alangkah sejuknya. Terima kasih.
Janda      :   Alangkah sejuknya susu panas ini.
Janda      :               Tua dan tidak tua tetap saja ama, kaktus, misalnya.

                Dari kutipan dialog di atas ditunjukkan Wenas berusaha memuji si kakek di hadapan si nenek dan menggunakan istilah genit dengan tingkah genit pula. Siakpnya yang ingin memperkeruh suasana dalam keluarga si kakek terlihat ketika ia membahas masalah kaktus yang sebelumnya diributkan dengan si nenek karena dianggap memanasi hubungan kakek dan nenek.
           
d.      tokoh lain
Dalam naskah ini tokoh lain dianggap sebagai pelengkap peran, berarti hadirnya sebagai pelengkap jalannya cerita. seperti kedua pembantu si kakek yakni Joni dan Nita tidak ada penerobosan sifat sebagai pembantu yakni patuh kepada majikannya. Sementaara itu tokoh lain yakni Novia bersifat seperti ibunya dan  Nita memiliki pemikiran yang lebih dewasa.

2.3 Hubungan Antar Tokoh Berdasar Dialognya
Analisis ini menunjukkan adanya dialog tokoh yang berkaitan dengan karakter. Selain itu ada kaitannya dialog yang disampaikan tokoh dengan tokoh lain karena setiap lawan bicara tokoh dianggap memiliki tingkatan yang berbeda. Misalnya, ungkapan seorang majikan terhadap pembantunya akan berbeda denga ungkapan seorang suami kepada isterinya. Kajian ini lah yang diharapkan dapat menjadikan pemahaman pembaca mengenai naskah drama ini lebih luas.
Dialog Kakek terhapap Nenek:
Awal adegan dalam naskah drama digambarkan sepasang kakek-nenek bercengkerama mengenang masa lalu.  Sikap kakek dan nenek dapat dilihat dari cara ucap dan pemulihan kata si kakek seperti berikut:
Kakek    :   Sekarang kau nyanyi.
Nenek menggeleng sambil tersenyum manja.
Kakek    :   Seperti dulu.
Nenek menggeleng sambil tersenyum manja.
Kakek    : Nyanyi seperti dulu.
Nenek    :   Malu
Kakek    :   Sejak dulu kau selalu begitu.
Nenek    :   Habis kaupun selalu mengejek setiap kali saya menyanyi.
Kakek    :   Sekarang tidak, sejak sekarang saya tidak akan pernah mengejek kau lagi.

Kutipan dialog antara kakek dan nenek di atas menunjukkan hubungan manja dan kerekaan dalam rumah tangga hingga tua. Ajakan si kakek untuk bernyanyi adalah usahanya untuk mengenang masa lalu bersama isterinya. Sementara tolakan daro isterinya karena merasa sudah tua dan merasa suaranya tidak sebagus dahulu yang dihina oleh suaminya. Gambaran hubungan suami-isteri dalam rumah tangga seperti ini banyak dijumpai dalam kehidupan nyata. Gambaran tersebut merupakan sebuah awal drama, dengan alur maju dan datar pengarang melukiskan ceritanya sejak awal kebahagiaan danmenyimpan cerita selanjutnya untuk menumbuhkan imajinasi pembaca.
Selanjutnya, dalam sebuah karya sastra, dalam hal ini drama terdapat konflik permulaan yang mendasari masalah dalam sebuah naskah. Ditunjukkan dengan sikap kakek terhadap nenek dan sebaliknya.
Kakek    :   Kau kejam. Saya sangat sedih. Saya mati tanpa lebih dulu mendengar kau menyanyi.
Nenek    :   Sayang, kenapa kau berfikir kesana? Itu sangat tidak baik, lagi tidak ada gunanya. Sayang , berhenti kau berfikir tentang hal itu.
Kakek    :   Mati saya tidak bahagia karena kau tidak maumenyanyi. Ini memang salah saya. Tetapi kalau sejak dulu kau cukup mengerti bahwa saya memang sangat memainkan kau, tentu kau bisa memaafkan segala macam ejekan-ejekan saya. Tuhan, saya kira saya akan menghembuskan nafas saya yang terakhir tatkala kau sedang menyanyikan sebuah lagu di telinga saya.
            Proses masuknya masalah dalam naskah drama secara halus oleh pengarang unuk memperindah karya tulis. Hal ini diperlukan agar merangsang pembaca untuk mengalir mengikuti gaya tulisannya. Berawal dari dialog yang menunjukkan kemesraan hubungan suami-isteri dilanjutkan dengan sedikit adu argumen dari kedua tokoh. “Kau kejam. Saya sangat sedih. Saya mati tanpa lebih dulu mendengar kau menyanyi”. Perkataan si kakek tersebut sebenarnya adalah bujukan kepada si nenek untuk menyanyikan sebuah lagu. Namun, si nenek yang jengah dengan bujukan tersebut marah dan menunjukkan emosinya dengan mengulass masa lalu si kakek dengan wanita lain. Akhirnya, si kakek mengalah dan menyanyikan sebait lagu untuk meredam kemarahan si nenek. Dari gambaran tersebut ditarik pengetahuan bahwa ternyata si kaket mudah merasa bersalah, sementara si nenek bersikap manja kepada suaminya.
            Sikap terhadap tokoh lain semacam ini tentunya tergantung pada timbal balik tokoh kepada tokoh lain. Misalnya saja dalam kehidupan sehari-hari kita akan bersikap ramah ika sedang berbahagia dan sebaliknya, atau kita akan bersikap tidak baik jika orang lain tidak baik terhadap kita. Gambaran sederhana seperti itulah yang diluruskan dan ditekankan agar pembaca naskah maupun pementas drama mudah mengimajinasikannya. Untuk mengetahui hal tersebut dalam naskah,
berikut kutipan konflik antara si kakek dan nenek dan karakternya ketika sedang berkonflik:
                                Pesuruh :               Ada tamu, nyonya besar.
                                Nenek    :               Siapa?
                                Pesuruh  :               Nyonya Wenas, nyonya.
                                Nenek    :               (Melirik pada Kakek) Nyonya janda itu (kepada pesuruh) Sebentar saya ke                                    depan.
                                Pesuruh exit.
                                Nenek    :               Kau surati dia?
                                Kakek    :               Tidak.
                                Nenek    :               Kau bohong. Bagaimana dia bisa tahu tentang pesta kita?
                                Kakek    :               Saya tidak tahu.
                                Nenek    :               Kau bohong (Exit) Demam saya mulai kambuh.
                               
                                Ketika pesuruh memberitahu bahwa ada tamu, sikap si nenek terhadap pesuruh berbeda dengan sikapnya kepada si kakek. Dengan melontarkan pertanyaan /siapa?/ menunjukkan bahwa bahasa dan intonasi yang berbeda dalam sebuah drama menentukan tingkatannya. Kalimat tanya tersebut tentunya diucapkan dengan intonasi berbeda jika si nenek berbicara dengan orang yang berbeda pula. Lalu, nampak jawaban pesuruh / Nyonya Wenas, nyonya / menunjukkan rasa hormat terhadap majikannya. Konflik sesungguhnya muncul ketika si nenek mengetahui bahwa yang datang adalah Wenas, masa lalu si kakek. Timbullah rasa cemburu dan dianggap mengganggu pesta berduanya. Si nenek keluar dan mengatakan bahwa ia sakit merupakan luapan amarah dan rasa ingin diperhatikan karena cintanya terhadap si kakek yang tidak ingin didekati oleh wanita lain.

                        Nenek    :Kami sangat berharap sekali nyonya hadir kemarin. Suami saya juga heran                                      kenapa nyonya tidak datang kemudian.
                                Janda     :Kami sakit.
                                Nenek    :Kami? Maksud nyonya….
                                Janda     :Ya, saya dan anjing saya sakit. Setiap kali saya sakit anjing saya juga ikut sakit. Saya agak         senang karena sekarang saya agak sembuh, tetapi Bison agak parah sakitnya.
                                Nenek    :Kasihan. Sayang. (Heran suaminya tidak ada). Dimana kau? Dia tadi disini. Sebentar,   nyonya (beseru) Onda, dimana kau? (Exit)


            Sikap nenek terhadap Wenas ditunjukkan dengan sopan sekalipun dengan perasaan marah dan cemburu. Ungkapan sopan tersebut telihat dibuat buat untuk menutupi perasaan cemburunya. Terkadang naluri tersebut muncul dalam perasaan manusia ketika harus marah namun harus tampak menyenangkan. Ungkapan kemarahan yang tersembunyi si nenek tertuang ketika memenggil suaminya dengan kata /kau/ dan /onda/.
            Tokoh lain dalam naskah drama yakni Wenas, pesuruh, Nita, Bustami, dan Novia dalam naskah ini menerik untuk dikaji satu per satu.  Wenas, si janda yang dianggap mengganggu bersikap manja kepada suami orang. Hal inilah yang menjadikan timbal balik sikap orang lain terhadap sikapnya. Sikap manja si janda kepada suami si nenek didasari masa lalunya yang tidak bisa dilupakannya. Dibuktikan dengan pertanyaan si janda kepada pesuruh dalam rumah tersebut seperti berikut:
                       
                                Janda     :               Siapa yang memilih minuman ini?
                                Pesuruh  :               Saya sendiri, nyonya, kenapa?
                                Janda     :               Ini memang kesukaan saya.
                               
                                Janda     :               (Minum) Segar bukan main. Bagaimana kau tahu saya suka minuman ini?
                                Pesuruh  :               Tuan besar sering menceritakan perihal nyonya kepada saya. Dan ketika saya tahu nyonya datang, segera saya buatkan minuman itu. Selamat minum nyonya.
                               
                                Janda     :               Tuan besar masih suka…
                                Pesuruh  :               Menyirami kaktus?
                                Janda     :               Ya?
                                Pesuruh  :               Tidak, nonya, tapi tuan besar menyirami seluruh bunga sekarang, setiap pagi dan sore. Memang tengah malam seringkali diam-diam ia menyirami kaktus yang ditaruh di dalam kakus. Maaf nyonya, saya harus ke dalam.
                               
               
            Pesuruh yang membuatkan minuman kesukaan Wenas mengetahui minuman kesukaannya karena tuannya sering menceritakan hal tersebut kepada pembantunya. Dari sinilah terbukti adanya hubungan tersembunyi yang disembunyikan si kakek kepada isterinya. Sementara, dari dialog di atas terbukti bahwa kaktus pemberian Wenas masih dipelihara dengan baik oleh si kakek. Benih-benih konflik halus seperti ini dijelaskan dengan halus sehingga tak kentara oleh pembaca jika tidak dianalisis dengan cermat.
            Selain hal di atas, penulis menunjukkan mula permasalahan pada diri Wenas. Kedatangan Wenas ke rumah pasangan suami-isteri tersebut tidak lain adalah untuk mengusik ketenangan hubungan rumah tangga yang baru saja menunaikan pesta perkawinan. kejadian tersebut dibuktikan dari kutipan satu kalimat monolog  dari Wenas sebagai berikut:
                        Sambil mengamati ruangan tengah itu nyonya Wenas membenahi dirinya.
                                Janda      :               Terlaknat saya, kenapa saya jadi gemetar?

            Ada hal menarik dalam naskah drama ini, yakni trik pura-pura lupa yang dilakukan oleh si kekek ketika ditemukan dengan Wenas. Penulis bukan, tanpa maksud menengahkan masalah ini dalam naskah, tujuannya adalah menunjukkan adanya hubungan masa lalu antara si kakek dengan Wenas yang tersembunyi. Masa lalu keduanya dilampirkan tersirat untuk selanjutnya menentukan jalan cerita naskah drama. Contoh kutipan amnesia sesaat si kakek:
                        Nenek    :               Selamat datang, nyonya.
                                Janda      :               Selamat atas….
                                Kakek     :               Terima kasih. Maaf , nyonya Tampubolon?
                                Nenek    :               Kau pelupa benar.
                                Kakek     :               Siapa bilang, Nyonya pasti nyonya Mangandaralam.
                                Nenek    :               Sayang, ini nyonya Wenas.
                                Kakek     :               Ya, saya maksud nyonya Wnas. Apa kabar suami nyonya?
            Langkah masalah selanjutnya dikisahkan dengan perang bisu antara si kakek dan nenek. Lantaran si nenek cemburu tak tertolong. Si kakek berusaha membujuk agar melupakan masalah segala masalah dirinya dengan Wenas. Dalam naskah ini kecemburuan si nenek terlupakan oleh masalah yang timbul dari anaknya, Novia yang mengalami masalah sama dengan hubungan si kakek-nenek. Novia tidak betah hidup bersama suaminya yang seorang dokter dan dianggap kerap bermesraan dengan pasian yang tak lain adalah mantan kekasih suaminya. Berawal dari masalah inilah perteangkaran si kakek dan nenek mereda, bahkan keduanya menasehati anaknya untuk tidak bercerai dan memikirkan kedua anaknya. Secara tidak langsung si kakek dan nenek merasa tertohok dengan kejadian tersebut. Kemarahan Novia dan itikadnya untuk menceraikan suaminya mirip dengan peristiwa yang dialaminya. Si nenek berpikir bahwa ia masih memunyai orang tersayang yang hidup disampingnya.
Pelajaran yang dapat diambil dari pasangan tersebut yakni untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga tidak mudah, namun untuk melepaskan sebuah jalinan keluarga juga memerlukan pertimbangan kanan dan kiri. fenomena kawin-cerai ayng populer di kalangan artis saat ini dijadikan contoh oleh masyarakat laus, sehinggaa tanpa pikir panjang sebuah hubungan rumah tangga dapat dipisahkan hanya karena massalah sepele dalam keluarga.


4 komentar:

About Me

Foto Saya
Kec. Rancah kab. Ciamis, jawa barat, Indonesia
kehidupan tak selamanya indah!!! inspirasi itu datang dari seseorang yang tahan uji, ia akan merasa bangkit jika ia terus mengalami kegagalan!!!
© Selamat Datang Di blognya Asep Wahid. Template by Template Responsive Design Powered By Blogger